Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan

7.21.2025

Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran

saat sore hari di pantai pangandaran
Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pananjung adalah pusat keanekaragaman hayati di Pangandaran.

Merencanakan liburan ke Pangandaran, dalam benak kita selalu terbersit akan indahnya pantai Jawa Barat, perahu nelayan, karang laut dan kehidupan biota laut, serta pesona sunsetnya. Anda tidak salah, tapi ada satu lagi yang masih jarang diketahui kalau Pangandaran juga memiliki kawasan cagar alam yang lokasinya tidak jauh dari kawasan pantainya, Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran.

Obyek Wisata Alam Pangandaran

Taman Wisata Alam Pangandaran terletak berhimpitan dengan kawasan konservasi Cagar Alam Pangandaran, terletak pada ketinggian 0-75 mdpl dengan luasan wilayahnya 37,7 Ha, dengan luas blok pemanfaatan seluas 20 Ha dan secara administratif masuk wilayah desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran dan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Kawasan Taman Wisata Alam Pangandaran memiliki obyek dan daya tarik wisata yang beragam dan bervariasi, khusus anda yang berwisata bersama keluarga, area Taman Alam ini memberikan nilai edukasi untuk anak-anak anda, beberapa diantaranya adalah:
  1. Pantai Pasir Putih Timur dan Barat terdapat hamparan terumbu karang yang ditumbuhi beragam biota laut, di area ini sangat tepat untuk sarana pendidikan maupun penelitian tentang Biota Laut. Lokasi yang tepat untuk berenang, snorkelling atau menyelam.
  2. Hutan Pantai, dengan formasi Baringtonia merupakan hamparan hutan pantai yang didominasi oleh tumbuhan jenis Butun (Baringtonia asiatica), Nyamplung (Callophylum innophylum), Pandan Laut (Pandanus tectorius), Waru Laut (Hibiscus tilliceus).
  3. Vegetasi Pes-Caprae (merupakan formasi vegetasi yang khas pada pasir/pantai yang didominasi oleh tumbuhan kangkung laut (Ipomoea pescaprae)
  4. Hutan Tanaman Jati dan Mahoni, anda bisa mengobservasi/mengamati serta mengenali tumbuhan jati dan mahoni
  5. Hutan Dataran Rendah, anda dapat mengamati kondisi hutan dataran rendah yang didominasi oleh jenis tumbuhan alam, mulai tumbuhan bawah hingga pepohonan, epiphyta dan parasit.
Kera (<i>Macaca fascicularis</i>) Rusa (<i>Cervus Timorensis</i>)
Fauna yang dapat di temukan lebih dekat dengan kita dan bebas liar adalah Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Trachipytecus auratus), Landak (Hystrix bracyura), Trenggiling (Manis Javanica), Rusa (Cervus Timorensis) dan Kancil (Tragulus Javanicus). Sedangkan untuk jenis burung, di kawasan ini anda dapat menemui burung Tulumtumpuk (Magalaema javensis), burung Kangkareng (Anthracoceros convexus), Ayam Hutan (Gallus g varius), Tando (Chynocephalus variegatus) dan juga Ular Sanca (Phyton molurus)

Ingat, ketika berada di TWA Pananjung, jangan beri makan satwa yang ada didalamnya (contoh: monyet). Pemberian makan satwa akan memicu mereka untuk berperilaku agresif.

papan himbauan di cagar alam jawa barat
Tur Adopsi Karang
Jika ada ingin melakukan aktifitas konservasi, bisa bergabung sebagai "orangtua asuh" untuk membantu merehabilitasi terumbu karang dalam program adopsi karang. Karena, terumbu karang yang terawat adalah sumber yang baik bagi perikanan dan pariwisata.

Di taman wisata ini juga terdapat Padang Pengembalaan Cikamal. Area pengembalaan ini merupakan padang rumput seluas 20 hektar. Di sana Anda akan menemukan banteng dan rusa yang sedang merumput. Jika Anda berjalan ke bagian selatan, terdapat air terjun yang dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan berjalan kaki melalui jalan setapak.

Selain panorama alam dan keanekaragaman flora dan satwanya

Di dalam Kawasan Taman Wisata Alam ini terdapat beberapa legenda dan cerita rakyat yang terjadi di beberapa lokasi gua, salah satunya adalah Goa Keramat atau Gua Parat yang menurut kisahnya dulunya gua ini merupakan lokasi untuk bertapa dan bersemedi beberapa Pangeran dari Mesir, yaitu Pangeran Kesepuluh (Syech Ahmad), Pangeran Kanoman (Syech Muhammad), Pangeran Maja Agung dan Pangeran Maja Sumende. [legenda selengkapnya disini]

Gua Parat atau Gua Keramat Goa Jepang
Goa Alam dan Goa Jepang, di area ini juga tersimpan sejarah Perang Dunia ke dua, salah satu peninggalannya adalah goa Jepang, dengan bantuan seorang pemandu lokal anda bisa memasukinya untuk melihat lebih jauh tentang riwayat dan kondisinya. Jika goa Jepang memang sengaja dirancang dan dibangun oleh manusia untuk keperluan perang, banyaknya goa-goa yang tersebar di beberapa tempat adalah goa bentukan alam. Goa alam di Taman Wisata ini memiliki riwayat sejarah, legenda dan juga ilmiah. Anda dapat mempelajari bagaimana proses pembentukann Stalagtit dan Stalagmit serta ornamen goa lainnya. [sejarah lengkap goa Jepang]

Batu Layar Ujung gua Parat yang menembus jalur pantai
Berkeliling Pantai Pangandaran, jika tidak ingin memutar jalan dan keluar dari pintu masuk Taman Wisata Alam, anda bisa memesan di jemput perahu dan berkeliling di sekitarnya, jika siap dengan peralatan snorkelling tentu lebih baik. Salah satu point yang menarik adalah melintas dan berenang di Batu Layar. [Peta Wisata Alam Pangandaran]

Trekking dan Safari di Taman Wisata Alam

Explore Pangandaran
open trip explore bromo

2.18.2016

Penghuni Gua Parat: Landak Jawa yang Sadar Kamera

Landak Jawa di Gua Parat Pangandaran Jawa Barat
Setiap ada kisah tentang "Penghuni Gua" siapa saja yang mendengarnya pasti akan merinding, selalu terkesan dengan cerita horor berbau hantu dan mistik. Tapi kali ini berbeda dengan Penghuni Gua yang satu ini, sudah jinak, lucu juga imut dan selalu menyambut tamu-tamunya dengan ramah dan hangat.

Landak Jawa (Hystrix javanica) adalah mamalia yang unik karena memiliki duri-duri yang keras menutupi kulitnya, yang dipergunakan sebagai pertahanan diri menghadapi pemangsa, duri-durinya bisa berdiri tegak menutupi dan melindungi seluruh tubuhnya yang lunak. Seekor landak mampu menghempaskan duri-duri yang tebal dan kaku itu ke tubuh pemangsa, duri-duri tersebut bisa terlepas dan menancak ke tubuh pemangsa untuk membuatnya jera.

goa parat atau goa keramat di taman wisata alam pangandaran jawa barat
Mulut Gua Parat, dari gua ini anda bisa langsung mengakses pantai pasir putih Pangandaran atau sebaliknya memasuki kawasan Taman Wisata Alam dan Cagar Alam melalui laut dengan perahu wisata
Gua bukanlah rumah aslinya, Landak sebagai binatang pengerat seperti tikus dan kelinci ini umumnya membuat sarang di dalam tanah, memiliki kesanggupan membuat lubang dalam tanah hingga 5 meter dalamnya dan biasanya terdiri dari beberapa lubang, pintu masuk dan keluar dibuatnya terpisah. Di dalam gua Parat, landak-landak ini tidak perlu lagi membuat lubang lagi, mereka memanfaatkan lorong-lorong sempit bentukan asli gua.

Awalnya ada sepasang landak yang mendiami gua Parat di Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran, diberi nama dan julukan Joni dan Lince. Rupanya di rumah barunya ini kebutuhan terhadap makanan cukup berlimpah, sehingga sepasang landak ini berhasil berkembang biak menjadi sebuah keluarga uang utuh, terakhir terhitung sudah terdapat 8 (delapan) ekor landak yang sehat dan gemuk hasil keturunan Bapak Joni dan Ibu Lince. Ada yang punya saran untuk nama-nama anaknya?.. *silahkan diisi di baris komentar ya..

Satu keluarga "sakinah" landak-landak penghuni Gua Parat ini sudah sangat akrab dengan para pengunjung dan wisatawan. Mereka tidak takut sama manusia, kebalikannya dengan para pengunjung yang kuatir dengan binatang di kegelapan gua. Sangat dimaklumi karena rata-rata mereka yang datang, ini kali pertama berjumpa dengan sosok landak dari dekat secara langsung, bukan di kandang atau dari layar televisi.
Keempat spesies Landak ini, oleh IUCN Redlist dimasukkan dalam kategori LC (Least Concent atau Resiko Rendah) yang artinya spesies landak ini belum terancam kepunahan. Namun ini tercatat belum dievaluasi lagi sejak 2001. Perlu menjadi catatan ulang bahwa keempat jenis ini termasuk jenis endemik yang memiliki resiko tinggu untuk punah.
Setiap ada yang datang dan dipanggil pasti akan segera keluar dari lobangnya dan berharap ada yang membawa makanan untuk pasangan berikut anak-anaknya. Setiap pengunjung yang diantar oleh Pemandu, akan diinformasikan sebelumnya untuk membawa bekal makanan ringan seperti kacang atau sayuran. Jika diberikan makanan, landak-landak ini sedikitpun tidak gentar untuk mengambil langsung dari tangan, anda tinggal menyodorkan pelan-pelan ke mulut mereka dengan tangan terbuka.

Tidak hanya berani menghadapi para wisatawan, landak-landak ini juga tidak pernah terusik dengan lampu flash dari kamera pengunjung. Mereka akan tetap sibuk dengan makanannya sementara pengunjung bergantian berfoto dengannya. Atau justru mereka sudah nyadar tentang transaksi "makanan untuk foto"??
Landak Jawa banyak ditemukan di hutan, dataran rendah, kaki bukit, dan area pertanian. Makanan Landak Jawa adalah rumput, daun, ranting, akar, buah-buahan dan sayur-sayuran.
Landak-landak tersebut sudah tinggal permanen dan nyaman di dalam gua Parat, dan mulai tergantung dengan makanan-makanan yang dibawa pengunjung. Menurut Kang Diran, Pemandu setempat pihak pengelola juga memberikan makanan secara berkala sebagai tambahan untuk landak-landak yang sudah berkembang semakin banyak ini.

Empat Spesies Endemik Indonesia

jangan lupa membawa penerangan saat masuk goa parat atau goa keramat
Gelap dan Sunyi Abadi, itulah nama lain dari kondisi didalam gua-gua alam atau gua karst di Pangandaran. Membawa penerangan  diwajibkan saat anda memasuki lorong-lorong gua
Menurut catatan Alamenda, Indonesia memiliki 4 (empat) jenis landak endemik dari puluhan jenis landak dunia. Keempat jenis landak tersebut adalah Malayan Porcupine (Hystrix brachyura), Sunda Porcupine (Hystrix javanica), Sumatran Porcupine (Hystrix sumatrae), dan Bornean Porcupine (Thecurus crassispinis).
Endemisme atau Endemik dalam ekologi adalah organisme yang unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, negara, atau zona ekologi tertentu. Menjadi endemik karena ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain.

Beberapa Fakta dan Informasi tentang Landak

Di alam, satwa ini bersembunyi di dalam lubang saat siang hari, dan keluar dari lubang persembunyiannya pada malam hari untuk mencari makan. Mereka layaknya tikus suka mengendus-endus tanah dan mondar-mandir di sekitar sarang. Hal ini di maksudkan untuk mendapatkan sumber pakan atau mengantisipasi jika ada bahaya. Apabila dalam keadaan terdesak satwa ini akan menggunakan rambut yang seperti tusuk sate (duri) tersebut yang berperan sebagai pelindung atau sebagai senjata. Sedangkan kaki depan landak selain digunakan untuk berjalan, kedua kaki depan landak berfungsi juga untuk menggali tanah.

Karena termasuk hewan pengerat, maka sering kali Landak memegang batu dan menggerogoti batu itu untuk mengurangi pertumbuhan giginya. Gigi (dentes) pada landak berfungsi untuk memotong dan mengunyah makanannya.
Bagi para petani, Landak dianggap sebagai hama karena sering merusak tanaman sayur di ladang dan persawahan.
Pada saat tidur, Landak biasanya berbaring tengkurap dengan posisi keempat kakinya menyamping dan perut diletakkan di tanah tentu dengan memejamkan matanya.

Bila sedang kawin Landak akan lebih aktif dan agresif, khususnya landak jantan. Ekor landak jantan akan bergerak-gerak dan memutar-mutar ke segala arah di sekitar landak betina. Landak betina cenderung lebih pasif dan jarang bergerak saat kawin, dan hanya sesekali mengikuti gerak landak jantan.

Klasifikasi Landak Jawa

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Infraphylum : Gnathostoma
Superclassis : Tetrapoda
Classis : Mammalia
Subclassis : Theria
Infraclassis : Placentalia
Ordo : Rodentia
Suborder : Hystricomorpha
Subordo : Hystricomorpha
Infraorder : Hystricognathi
Infraordo : Phiomorpha
Familia : Hystricidae
Genus : Hystrix
Spesies : Hystrix javanica
Explore Pangandaran
open trip explore bromo

2.03.2015

Penangkaran Penyu di Pantai Batu Hiu

penyu laut batu hiu
Pantai Batu Hiu merupakan salah satu destinasi wisata ketika anda berkunjung ke Pangandaran. Tepatnya terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, kurang lebih 14 km dari Pangandaran ke arah Selatan. Pantai ini memiliki panorama yang indah, selain pemandangan ombak yang saling susul. Di pantai ini juga memiliki bukit karang yang cukup besar ditumbuhi rerumputan dan pohon Pandan Wong.

Bukit ini memiliki gerbang berbentuk mulut hiu yang terbuka lebar, jadi ketika kita ingin menaiki bukit tersebut seolah-olah kita masuk kedalam mulut hiu. Ketika berada diatas bukit kita disambut dengan sejuknya angin yang berhembus tiada henti dan pemandangan samudra Indonesia yang luas.
Ada beberapa bagian bukit yang menjorok kearah laut dan dibagian terluar dibuat gazebo untuk menikmati pemandagan laut dengan ombaknya yang saling bersambut
Tidak jauh dari pantai terlihat sebongkah karang yang menjulang keatas, ketika air pasang karang ini berbentuk seperti sirip hiu jika dilihat dari atas bukit, karna itulah mengapa pantai ini dinamakan pantai batu hiu.

Bukit karang yang menjorok di Batu Hiu
Sayangnya dipantai ini kita sulit untuk berenang, karena cukup banyaknya ubur-ubur di pantai ini. Namun kita tidak perlu khawatir jika hanya sekedar bermain ditepi pantai.

Inisiatif mandiri peduli dengan Penyu Laut

tukik, anak penyu
Jangan sampai terlewatkan untuk berkunjung melihat penangkaran penyu yang hanya ada dipantai ini. Uniknya penangkaran penyu ini hanya dikelola oleh satu orang dengan keluarganya yang peduli dengan habitat laut, beliau mendedikasikan dirinya untuk kelangsungan hidup hewan yang sudah langka ini. Peran pemerintah belum dirasakan oleh beliau selama dari tahun 1982 sampai dengan saat ini.

Hanya mengandalkan rasa peduli akan pentingnya ekosistem alam beliau tidak pernah mengeluh dan memohon bantuan dari pihak manapun untuk ratusan ekor penyu yang ada dipenangkarannya. Cita-cita beliau sangat sederhana, ingin cucu dan cicitnya bisa mengenal penyu bukan dari cerita atau gambar, namun bisa melihat langsung bahkan menyentuhnya.

pak didin dan pengunjung
Untuk melihat penangkaran penyu ini kita tidak dipungut biaya apapun oleh pemiliknya. Begitu memasuki halamannya, beliau langsung menyambut dengan senyuman hangatnya dan langsung mengantarkan kita untuk mengenal penyu-penyu yang ada di penangkarannya,  Pengalaman beliau dan informasi yang dimilikinya membuat kita banyak mendapatkan ilmu dan pentingnya menjaga habitat laut demi kelestariannya.
Ada kotak persegi berwarna hitam dengan lubang kecil yang ada didekat pintu masuk, dan diatasnya tertulis pemberian anda untuk membantu membeli makan penyu-penyu disini.
Sangat wajar kita memberikan sedikit apa yang kita miliki dari apa yang telah kita dapat didalamnya. Yang ia lakukan adalah untuk keseimbangan alam dan ekosistem laut, layaknya dapat perhatian dan dukungan dari kita semua.
Explore Pangandaran
open trip explore bromo

11.03.2014

Ornamen Edukasi di Gua Karst Pangandaran

spot unik di Gua Lanang Pangandaran
Wisata Pangandaran memang lebih dikenal dikalangan luas dengan keindahan pantainya, sunset dan sunrise serta berbagai aktifitas water sport yang menantang. Tapi tahukan anda kalau Pangandaran adalah sebagian wilayahnya berada dalam wilayah dan ekosistem karst?

Ekowistem Karst di Pangandaran

Mudah saja untuk memahami apakah suatu daerah tersebut tergolong kawasan karst, dapat di temui banyaknya gua-gua yang terjadi karena proses alam (gua alam) dan tentu gua jepang bukan termasuk didalamnya. Lahan permukaan umumnya berbatu, cenderung daerah kering sehingga pertanian masyarakat yang berkembang adalah perladangan. Adanya sungai-sungai bawah tanah dan biasanya daerah tersebut menjadi sasaran bahan baku pabrik semen karena ketersediaan bahan baku dalam bentuk batu gamping.
Apa itu Karst? Kawasan karst merupakan bentang alam yang memiliki kondisi hidrologi dan bentuklahan spesifik yang berkembang di batuan mudah larut (batugamping, marmer, gipsum, halit) dan memiliki banyak rekahan. Kawasan karst dicirikan oleh keberadaan cekungan tertutup, drainase bawah tanah, dan gua.
Gua Parat atau Gua Keramat di Cagar Alam Pangandaran merunduk menuju pasir putih di Gua Parat
Di lapisan permukaan, kawasan karst ditandai dengan terbentuknya bukit-bukit dan lembah-lembah yang terjal. Sedangkan lapisan bawah tanah terjadi pelarutan menyebabkan terbentuknya ruangan-ruangan, lorong sungai bawah tanah, yang di kenal dengan gua atau sistem perguaan.

Gua Karst di Cagar Alam Pangandaran

Untuk membuktikannya, jika anda berwisata di Pangandaran sempatkan untuk melakukan kunjungan ke Taman Wisata Alam dan Cagar Alam Pangandaran. Karena anda dapat membuktikan secara langsung keberadaan beberapa Gua Karst sekaligus sebagai muatan edukasi untuk mempelajari proses pembentukan gua alam dan menyaksikan ornamen-ornamen yang terbentuk di dalam gua tersebut.

Gua Lanang/Lanang Cave di Wisata Pangandaran
Goa ini di sebut Goa Lanang karena konon goa ini merupakan keraton kerajaan Galuh yang pertama. Didalam Goa ini terdapat stalaktit dan stalagmit yang sangat indah serta terdapat juga satwa kelelawar
Beberapa Gua Karst yang dapat anda masuki di kawasan cagar alam adalah Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, Gua Parat, Gua Panggung. Gua Lanang dan Gua Parat adalah salah satu gua yang cukup besar untuk bisa di eksplorasi oleh banyak orang, dan yang menarik dari kedua Gua ini memiliki dua pintu keluar masuk yang tembus, jadi anda tidak perlu kembali lagi dan dapat melanjutkan ke rute spot wisata lainnya.

Memahami Ornamen-ornamen Dalam Gua Karst

Meskipun ornamen-ornamen gua yang anda temui di kawasan Cagar Alam ini sudah tidak bisa berkembang dan tumbuh lagi, karena terhentinya aliran air sebagai pemicu proses pembentukannya. Tidak ada salahnya jika kita mencoba memahami serta mempelajari bagaimana proses pembentukan yang terjadi pada beberapa ornamen tersebut.

beragam ornamen gua di gua lanang pangandaran
• Stalaktit ( stalactite )
Terbentuk dari tetesan air dari atap gua yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3 ) yang mengkristal, dari tiap tetes air akan menambah tebal endapan yang membentuk kerucut menggantung dilangit-langit gua. Berikut ini adalah reaksi kimia pada proses pelarutan batu gamping : CaCO3 + CO2 + H2O à Ca2 + 2HCO3

• Stalakmit ( stalacmite )
Merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai gua karena hasil tetesan air dari atas langit-langit gua.

• Tiang ( Column )
Merupakan hasil pertemuan endapan antara stalaktit dan stalakmit yang akhirnya membentuk tiang yang menghubungkan stalaktit dan stalakmit menjadi satu.

• Tirai (drapery)
Tirai (drapery) terbentuk dari air yang menetes melalui bidang rekahan yang memanjang pada langit-langit yang miring hingga membentuk endapan cantik yang berbentuk lembaran tipis vertikal.

• Teras Travertin
Teras Travertin merupakan kolam air di dasar gua yang mengalir dari satu lantai tinggi ke lantai yang lebih rendah, dan ketika mereka menguap, kalsium karbonat diendapkan di lantai gua.

Fauna Gua di Cagar Alam Pangandaran

Ekosistem gua adalah ekosistem yang asing, seasing lingkungannya yang gelap, lembab dan tidak mudah untuk di capai. Gua merupakan tempat berlangsungnya proses adaptasi dan evolusi berbagai jenis organisme. Gua yang terbentuk menciptakan sebuah habitat bagi makhluk hidup lainnya. Kondisi gua yang gelap dan sumber bahan organik yang terbatas menciptakan habitat unik dan menarik untuk dipelajari.

Beberapa jenis serangga dapat anda jumpai di dalam gua, mulai dari semut, jangkrik, laba-laba dan landak. Keberadaan kelelawar dapat dikenali langsung melalui bau khas guano (kotoran kelelawar) saat mulai memasuki mulut gua. Reptil lain yang cukup besar seperti biawak, menjadikan gua-gua ini sebagai tempat perlindungan dari teriknya matahari.
Biawak yang mencari perlindungan di gua-gua di Cagar Alam Pangandaran

Pantai dengan Pasir Putihnya untuk Snorkeling

Setelah puas menikmati, mempelajari dan mengeksplorasi kawasan Taman Wisata Alam Pangandaran berikut dengan gua-gua alam dan jepangnya. Saya yakin anda cukup letih dan berkeringat mengingat cakupan luasan area ini cukup besar. Membasuh badan di pantai pasir putih yang masih berada dalam kawasan adalah penutup yang paling berkesan untuk perjalanan yang melelahkan ini. Anda bisa menyewa perahu wisata dan berkiling di sekitarnya atau menyewa peralatan snorkeling dan menyaksikan keindahahan bawah laut.... segerrrnyaaaa..

Pantai Pasir Putih Taman Wisata Alam Pangandaran
Explore Pangandaran
open trip explore bromo

11.02.2014

Merak Hijau di Taman Wisata Alam Pangandaran

Burung Merak Hijau di Taman Wisata Alam Pangandaran
Merak, si burung cantik dan anggun berwarna hijau ini dapat anda jumpai langsung di alam (bukan di kandang) di area Taman Wisata Alam & Cagar Alam Pangandaran. Ada sebanyak delapan ekor atau empat pasang burung merak hijau sebagai penghuni baru yang tahun lalu dilepaskan di Cagar Alam Pangandaran oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cikembulan Garut untuk menambah daya tarik pengunjung wisata alam dan sekaligus upaya melindungi dan konservasi satwa langka ini.

Upaya Pengembangbiakan Merak Jawa di Pangandaran

Burung Merak Hijau atau biasa di sebut juga sebagai Merak Jawa ini memang bukan penghuni asli Cagar Alam Pangandaran, didapatkan dari masyarakat yang menyerahkan langsung kepada BKSDA Cikembulan Garut yang selanjutnya akan dikembangbiakkan di pengelola Cagar Alam Pangandaran. Sebelum dilepaskan ke alam, ke empat pasang burung merak hijau ini sudah melalui proses pemulihan dan penyesuaian dengan lingkungan barunya, setelah cukup waktu untuk beradaptasi kedelapan ekor burung merak dilepaskan di kawasan Cagar Alam dan hidup liar didalamnya dan berharap dapat berkembangbiak secara alami disini.

Sekilas tentang Merak Hijau

Nama ilmiah dari burung merak hijau (merak jawa) ini adalah Pavo muticus salah satu burung dari tiga spesies merak. Seperti burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae, Merak Hijau mempunyai bulu yang indah. Bulu-bulunya berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

Burung Merak Jawa yang dapat di temui langsung di alam Taman Wisata Pangandaran

Di alam, populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Tiongkok, Indocina dan Jawa, Indonesia. Disebutkan di beberapa negara lain ditengarai sudah tergolong punah. Di Indonesia, Merak Hijau hanya terdapat di Pulau Jawa. Habitatnya mulai dari dataran rendah hingga tempat-tempat yang tinggi. Salah satunya yang masih bisa ditemui berada di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Burung merak hidup berkelompok dan membentuk keluarga. Mereka tinggal di atas pohon saat malam hari. Dan di siang hari, mereka lebih suka berjalan-jalan di tanah dan bertengger di atas dahan pohon yang gundul.

Sayap yang indah pada merak ternyata hanya dimiliki oleh merak jantan, bukan betina. Pasalnya, sayap indah ini digunakan oleh merak jantan untuk menarik perhatian sang betina. Sementara itu, sang betina nggak punya bulu ekor yang panjang supaya bisa bersembunyi dan bertelur dengan aman di balik semak-semak.

Walaupun berukuran sangat besar, Merak Hijau adalah burung yang pandai terbang. Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur.
Makanan burung Merak Hijau terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, beberapa jenis serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.
Namun karena banyaknya habitat hutan yang hilang dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terpencar, Merak Hijau dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List dan Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Penangkaran Merak Hijau satu-satunya di Indonesia

Jangan kaget, di Indonesia yang berhasil menangkarkan burung merak hijau bukanlah dari instansi pemerintah, tapi justru dikembangkan secara tidak sengaja oleh salah satu masyarakat dari Madiun. Surat Wiyoto, seorang petani tradisional yang tinggal di Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Pada tahun 1999 dalam perjalanannya mencari rumput, tak sengaja pak Surat menemukan 4 butir telur seukuran telur angsa yang tergeletak di tengah hutan. Ia tidak memasaknya tapi menitipkan untuk dierami oleh ayam peliharaannya. Tak lama berselang, sekitar 15 hari menetaslah 4 ekor anak merak dengan jenis kelamin dua jantan dan dua betina.

Dengan bermodal dari empat butir telur merak tersebut pak Surat mencoba mengembangbiakannya hingga belasan ekor selama kurun 14 tahun ini. Hingga akhirnya dengan upaya yang tidak mudah dan bantuan dari dokter hewan yang biasanya datang di kampungnya untuk mengurus izin penangkaran dari Badan Konservasi Sumberdaya Alam setempat untuk menghindari disita, karena satwa langka ini hanya tersisa 800-an ekor di alam. sumber: republika
Explore Pangandaran
open trip explore bromo