11.02.2014

Merak Hijau di Taman Wisata Alam Pangandaran

Burung Merak Hijau di Taman Wisata Alam Pangandaran
Merak, si burung cantik dan anggun berwarna hijau ini dapat anda jumpai langsung di alam (bukan di kandang) di area Taman Wisata Alam & Cagar Alam Pangandaran. Ada sebanyak delapan ekor atau empat pasang burung merak hijau sebagai penghuni baru yang tahun lalu dilepaskan di Cagar Alam Pangandaran oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cikembulan Garut untuk menambah daya tarik pengunjung wisata alam dan sekaligus upaya melindungi dan konservasi satwa langka ini.

Upaya Pengembangbiakan Merak Jawa di Pangandaran

Burung Merak Hijau atau biasa di sebut juga sebagai Merak Jawa ini memang bukan penghuni asli Cagar Alam Pangandaran, didapatkan dari masyarakat yang menyerahkan langsung kepada BKSDA Cikembulan Garut yang selanjutnya akan dikembangbiakkan di pengelola Cagar Alam Pangandaran. Sebelum dilepaskan ke alam, ke empat pasang burung merak hijau ini sudah melalui proses pemulihan dan penyesuaian dengan lingkungan barunya, setelah cukup waktu untuk beradaptasi kedelapan ekor burung merak dilepaskan di kawasan Cagar Alam dan hidup liar didalamnya dan berharap dapat berkembangbiak secara alami disini.

Sekilas tentang Merak Hijau

Nama ilmiah dari burung merak hijau (merak jawa) ini adalah Pavo muticus salah satu burung dari tiga spesies merak. Seperti burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae, Merak Hijau mempunyai bulu yang indah. Bulu-bulunya berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

Burung Merak Jawa yang dapat di temui langsung di alam Taman Wisata Pangandaran

Di alam, populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Tiongkok, Indocina dan Jawa, Indonesia. Disebutkan di beberapa negara lain ditengarai sudah tergolong punah. Di Indonesia, Merak Hijau hanya terdapat di Pulau Jawa. Habitatnya mulai dari dataran rendah hingga tempat-tempat yang tinggi. Salah satunya yang masih bisa ditemui berada di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Burung merak hidup berkelompok dan membentuk keluarga. Mereka tinggal di atas pohon saat malam hari. Dan di siang hari, mereka lebih suka berjalan-jalan di tanah dan bertengger di atas dahan pohon yang gundul.

Sayap yang indah pada merak ternyata hanya dimiliki oleh merak jantan, bukan betina. Pasalnya, sayap indah ini digunakan oleh merak jantan untuk menarik perhatian sang betina. Sementara itu, sang betina nggak punya bulu ekor yang panjang supaya bisa bersembunyi dan bertelur dengan aman di balik semak-semak.

Walaupun berukuran sangat besar, Merak Hijau adalah burung yang pandai terbang. Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur.
Makanan burung Merak Hijau terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, beberapa jenis serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.
Namun karena banyaknya habitat hutan yang hilang dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terpencar, Merak Hijau dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List dan Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

Penangkaran Merak Hijau satu-satunya di Indonesia

Jangan kaget, di Indonesia yang berhasil menangkarkan burung merak hijau bukanlah dari instansi pemerintah, tapi justru dikembangkan secara tidak sengaja oleh salah satu masyarakat dari Madiun. Surat Wiyoto, seorang petani tradisional yang tinggal di Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Pada tahun 1999 dalam perjalanannya mencari rumput, tak sengaja pak Surat menemukan 4 butir telur seukuran telur angsa yang tergeletak di tengah hutan. Ia tidak memasaknya tapi menitipkan untuk dierami oleh ayam peliharaannya. Tak lama berselang, sekitar 15 hari menetaslah 4 ekor anak merak dengan jenis kelamin dua jantan dan dua betina.

Dengan bermodal dari empat butir telur merak tersebut pak Surat mencoba mengembangbiakannya hingga belasan ekor selama kurun 14 tahun ini. Hingga akhirnya dengan upaya yang tidak mudah dan bantuan dari dokter hewan yang biasanya datang di kampungnya untuk mengurus izin penangkaran dari Badan Konservasi Sumberdaya Alam setempat untuk menghindari disita, karena satwa langka ini hanya tersisa 800-an ekor di alam. sumber: republika

Posting Komentar

Silahkan Booking melalui formulir komentar dibawah ini, dan jangan lupa tinggalkan alamat e-mail atau
kontak telepon/WA +62 812-8265-733 untuk segera bisa kami hubungi.